binatang berkaki empat
sejenis kadal, termasuk reptilia,
dapat mengubah
warna kulit sesuai lingkungan,
matanya dapat berputar untuk
melihat 2 objek sekaligus
secara simultan dan independen,
dapat memanjangkan lidah
untuk menangkap mangsanya.
Karena tidak ada organ telinga,
kemungkinan binatang ini tuli.
Awalnya sih ngumpulin packaging / label berbagai produk yang mirip-mirip, tapi lama-kelamaan susah juga nyarinya. Mungkin udah abis kali. Jadinya ya nyari-nyari kepalsuan aja. Apa kek tuh artinya ... bagi yang pertama kali kesini, dikanan bawah ada link "Next Page" buat ngelihat postingan sebelumnya
Pernah melihat iklan XL Bebas Rp 0,1/det ? Dengan foto wanita cantik dan tagline "Tarif Paling Murah Ke Semua Operator". Iklan versi televisinya "kawin sama monyet". Ternyata harga tersebut diatas bukan berarti selama apapun Anda berbicara segitu tarifnya.
Itung-itungannya seperti ini : Jika Anda menelpon pake XL selama 3 menit, berarti di menit 0 sampai menit ke-2 (120 dtk), kena biaya Rp.25/detik alias keseluruhan 2 menit pertama kena : 25x120 dtk = Rp 3000,-.
Nah, di menit ke-3 baru XL memberlakukan tarif 0.1/dtk-nya alias keseluruhan menit ke-3 terakhir kita kena 0.1 x 60 = Rp 6. Total Biaya Untuk 3 Menit Ke Beda operator Rp 3000 + 6 = Rp 3006,-.
Kalau kita menelpon misalnya selama 6 menit, apa kita akan kena 3000 + 6 + 6 + 6 +6 = Rp 3024 ? Salah besar! Anda akan membayarnya seperti melompat-lompat :
Menit ke 1-2 kena : Rp 3000,- Menit ke-3 kena : Rp 6,- Menit ke 4-5 kena : Rp 3000,- Menit ke-6 kena : Rp. 6,- dan seterusnya
Jadi untuk telpon 6 menit kenanya tetap mahal, yaitu 3000+6+3000+6 = Rp 6012,-
silahkan cek sendiri : website XL (dikopipes dan edit sono sini dari milis)
Walaupun berbagai kontroversi mengelilingi Suharto, mulai dari pembantaian anggota/simpatisan PKI, korban Tanjung Priuk, sampai Tragedi Semanggi, korupsi, kolusi, nepotisme, dll, Pak Harto harus diakui berjasa menjaga keutuhan NKRI, Pancasila dan berbagai kemajuan yang kita semua pernah rasakan. Tanpa Pak Harto, mungkin keadaan jauh lebih buruk, keadaan yang tidak kita rasakan seperti sekarang. Kalaupun ada yang berteori keadaan bisa lebih baik, mereka hanya bisa berbicara. Sedangkan Pak Harto sudah berusaha melakukannya.
Selamat jalan Pak Harto, jasa-jasamu tetap kami kenang Segala kekurangan, kami coba lupakan
Terima Kasih Pak Harto, tanpamu keadaan mungkin lebih buruk. Mungkin.
Malaysia, Tak Puaskah Engkau Dengan Sipadan-Ligitan ?
Belum lama teriakan "Ganyang Malaysia!" kembali terdengar karena sejumput karang Ambalat diintip-intip tetangga yang lebih mirip maling ini setelah perebutan Sabah-Sarawak jaman Soekarno dahulu. Tetangga yang merasa lebih kaya karena banyak TKI kerja disana, lebih maju karena bisa bangun menara ini, lebih cepat hanya karena ada sirkuit Sepang, tidak malu-malu mencuri lagu "Rasa Sayange" yang jelas-jelas berasa Ambon manise terus dipermak dengan syair Melayu, Mandarin dan India lantas dipakai sebagai iklan negara mereka. Agar ada cita rasa Malaysia judulnya diubah jadi "Rasa Sayang Hey". He..hehe
Belum lagi berbagai produk budaya seperti Batik, Reog Ponorogo sampai Musik Keroncong hampir-hampir dicaplok negara bersisa feodalisme kental pembajakan yang masih menyusu pada negara bekas penjajah mereka. Jelaslah kenapa mereka gak bisa memerdekakan diri dari Inggris, tapi mendapat pemberian kemerdekaan setelah melihat mentalitas macam gini. Sementara Indonesia dikirimi Dr. Azahari, dan Noordin M. Top, mereka asyik menghisap Gudang Garam selundupan sambil menikmati rendang yang mungkin sebentar lagi dipatenkan mereka bumbunya.
Mungkin Malaysia memang benar-benar merasa saudara sehingga bukan hanya pulau yang menjadi "milik bersama" sampai-sampai lagu daerah pun disikat. Kalau saya orang Malaysia, saya akan ciptakan theme song baru, atau minimal mencaplok juga lagu daerah dari suku Dayak Sarawak misalnya,
Saya dapat mengerti kalau Belanda menjajah Indonesia. Kenapa? Ya, karena mereka miskin. Mesti mengurug laut buat tambah luas tanah itu tandanya miskin, harus merampok pulau-pulau kecil biar sang Ratu terlihat kinclong itu tandanya miskin, kudu pake senapan buat beli biji kopi itu tandanya miskin. Lha, kalau memang sudah kaya, sudah maju, kenapa pula nyolong dari yang miskin dan "terbelakang"? Ya, RAKUS.
Mungkin untuk mempermudah konsumen mengenal produknya, kenapa kopi dalam kemasan gelas cup hampir selalu ada gambar cangkirnya. Dan yang paling sering ada gambar biji kopinya. Tapi kayaknya gak mungkin beli kopi ini lantas menuangkannya dalam cangkir untuk diminum. Mubazir toh gelasnya?
Latahnya juga dalam teh selalu ada gambar daun teh. Ya iyalah...kalo daun singkong yang ditaruh ya gak nyambung. Sama juga di iklan-iklan shampo Indonesia, belom liat yang kagak pake model cewek berambut hitam lurus dan panjang. Ada sih yang keriting, tapi nggak banyak amat. Yang mencengangkan iklan produk shampo dengan model berkerudung, tentu yang ditekankan kesehatan rambutnya. Tapi agak aneh juga mengiklankan sehatnya rambut yang sebenarnya gak boleh ditunjukan ke khalayak. Walopun tetep aja kebayang rambutnya yang sehat serapet apapun ditutupnya. Jadi mirip iklan kondom, manalah mungkin ditunjukin "benda"nya. Tanpa ditunjuki pun dah paham tuh buat apa. Walah jadi ngaco...
Jadi gimana dong? ditunjukin norak...ditutup-tutupi tetap "kelihatan". Ya otakmu yang musti dijaga. Mau ditutupi juga kalo otaknya liar...ya sama juga kopi dalam cangkir dalam gelas.